Jumat, 19 Mei 2017

#Matrikulasi1 #AliranRasa : Adab Menuntut Ilmu - Institut Ibu Profesional

Ini jawaban aliran rasa yang saya posting disini.



Aliran Rasa
Adab Menuntut Ilmu
NHW #1


Ilmu laksana harta karun, membaca adalah kuncinya, begitu pesan pepatah bijak. Ditimpali oleh seorang filsuf Arab, ilmu laksana binatang buruan, ikatlah ia dengan menulisnya. Kurang lebih isinya seperti itu. Pepatah tersebut bersemayam di kepala saya saat membaca prolog materi mengenai adab menuntut ilmu yang dibagikan oleh Mbak Tyas, fasilitator kelas IIP Bandung 4 Batch 4 yang saya ikuti kini.

Lalu apa yang saya pikirkan setelah membaca artikel tersebut? Tertampar. Ya, entah kenapa ilmu yang pernah saya pelajari semasa sekolah dulu menguap begitu saja. Saya lupa bagaimana sejarah Tuanku Imam Bonjol melawan penjajahan Belanda dahulu, bagaimana mencari x dalam aljabar, bagaimana proses membelah katak ketika mempelajari anatominya di pelajaran sains di bangku SMP, juga bagaimana merakit sebuah robot dengan sistem elektronika dasar yang sederhana. Argh, ternyata ada yang saya lupakan. Ketika menimba ilmu, tentunya kita tidak boleh mengesampingkan adab. Ya, adab yang harus ditularkan menjadi kebiasaan. Adab gabisa diperjualbelikan di pasar semodern manapun. Adab merupakan harga mahal dalam ilmu apapun. Tanpa adab jatuhnya akan menjadi kesombongan, takabbur karena merasa bisa, mampu, tahu dan menguasai atas satu ilmu tertentu. Naudzubillahi mindzalik. Saya lupa karena ilmu-ilmu yang pernah saya pelajari tersebut tidak pernah saya amalkan. Tidak pernah saya pelajari lagi. Bahkan untuk sekilas mendengar istilahnya saja saya merasa asing.

Ilmu merupakan prasyarat sebuah amal. Jadi ingat istilah ilmu amaliah dan amal ilmiah. Ilmu dan amal saling berkaitan erat. Ilmu wajib diamalkan dan amal wajib berdasar dari ilmu. Supaya segalanya lebih berkah. Semakin belajar banyak semakin merasa tidak berartinya diri kita, semakin menyadari ilmu yang kita punya ga ada apa-apanya. Jadi hati yang bersih sangat diperlukan seorang penuntut ilmu. Bismillāhirrohmānirrohīm.. robbi zidnī ‘ilman warzuqnī fahman, semoga Alloh selalu mudahkan jalan kami dalam usaha menuntut ilmu āmīn yā robbal ‘alamīn.

Berikut resume materi yang disampaikan ibu fasilitator sebagai pembukaan kelas IIP Batch #4 untuk kelas Bandung 4:

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

PROLOG 1

KELAS MATRIKULASI BATCH #4
INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘
ADAB MENUNTUT ILMU
Senin, 15 Mei 2017

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.
Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.
Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya
Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.
Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan
Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

☘ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.
Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.


☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat "copas dari grup sebelah" tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
e. Dalam dunia online, harus menerapkan "sceptical thinking" dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.
Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat

Referensi :
Turnomo Raharjo,
Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.

Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,
2014, hlm. 5

Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar