Jumat, 19 Januari 2018

Kupas Unsur Intrinsik Dongeng Semangka Emas

Cerita Dongeng Nusantara : Legenda Semangka EmasCerita Dongeng Nusantara Semangka Emas
Alkisah di daerah Sambas pada zaman dahulu hiduplah dua saudara. Muzakir dan Dermawan nama keduanya. Ayah keduanya adalah seorang saudagar kaya raya. Ketika ayah mereka meninggal dunia, ia mewariskan harta warisan yang sangat banyak jumlahnya. Harta warisan tersebut lantas dibagi dua. Setengah bagian untuk Muzakir dan setengah bagian sisanya untuk Dermawan. Keduanya lantas hidup terpisah, masing-masing menempati sebuah rumah yang besar lagi mewah.
Cerita Dongeng Nusantara Semangka Emas
Muzakir sangat kikir. Semua harta kekayaannya dimasukkan dalam peti yang terkunci rapat, Ia tidak mau memberikan sedikit harta kekayaannya itu kepada siapa pun juga yang membutuhkan. Sebaliknya, Dermawan sangat pemurah lagi baik hati. Jika ada orang yang datang meminta bantuan, Dermawan tidak pernah menolaknya. Orang-orang miskin akhirnya berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan untuk meminta bantuan. Dermawan senantiasa mengulurkan tangannya untuk memberi dan membantu. Lama-kelamaan harta kekayaan Dermawan habis. Rumah besar lagi mewah yang dihuninya pun dijualnya untuk kemudian dibelikannya rumah yang kecil dan sederhana. Uang sisa penjualan rumahnya yang besar itu juga diberikan kepada orang-orang miskin yang datang meminta kepadanya.
Setelah harta kekayaannya habis, Dermawan pun bekerja dengan upah tidak seberapa. Semua itu diterima Dermawan dengan ikhlas dari hati. Sama sekali ia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya.
Ketika mendapati adiknya jatuh miskin, Muzakir mendatangi Dermawan. Ia tidak berusaha memberikan bantuan, melainkan mencela dan mentertawakannya, "Betapa bodohnya engkau ini! Itulah yang akan engkau dapatkan jika engkau berlagak baik dengan memberikan bantuan kepada orang-orang miskin yang pemalas itu! Mereka maunya hanya meminta, tidak ingin berusaha atau bekerja. Setelah engkau jatuh miskin seperti ini, apakah mereka kembali berdatangan untuk membantumu?"
Dermawan tidak terlalu mempedulikan ucapan kakaknya.
Pada suatu hari Dermawan duduk-duduk di halaman rumahnya. Mendadak seekor burung pipit jatuh di dekat Dermawan duduk. Dermawan memperhatikan, sayap burung pipit itu patah. Ia pun mengobati dan merawat burung pipit itu. Disediakannya beras untuk makanan si burung pipit. Tak berapa lama burung pipit itu telah sembuh. Ia dapat terbang kembali. Namun demikian ia tidak berusaha terbang menjauh dari Dermawan. Ia telah jinak terhadap orang yang gemar menolong itu.
Burung pipit itu pada suatu hari datang mendekati Dermawan seraya membawa sebutir benih tanaman. Diletakkannya benih tanaman itu di dekat Dermawan. Ia lalu bercicit-cicit.
Dermawan menyadari, burung pipit itu memberikan benih tanaman itu kepadanya. Ia mengucapkan terima kasih dan kemudian menanam benih tanaman itu di belakang rumahnya.
Beberapa hari kemudian benih tanaman itu tumbuh menjadi tanaman semangka. Dermawan merawat tanaman itu baik-baik. Tanaman semangka itu pun tumbuh subur. Bunganya banyak, di sana-sini. Bunga-bunga itu nantinya akan menjadi bakal buah sebelum akhirnya menjadi buah.
Dermawan agak terkejut ketika kemudian mendapati hanya satu buah yang terdapat pada tanaman semangkanya. Sangat besar ukuran buah itu jauh lebih besar dibandingkan ukuran buah semangka biasanya. Kian bertambah hari kian bertambah besar pula buah semangka itu. Ketika buah semangka itu masak, Dermawan memetiknya. Ia terengah-engah keberatan ketika mengangkat buah semangka itu ke dalam rumahnya.
Dermawan sangat terkejut setelah membelah buah semangkanya. Isinya bukan daging buah semangka, melainkan pasir berwarna kekuning-kuningan. Setelah Dermawan mengamati, pasir berwarna kekuning-kuningan itu ternyata biji emas murni!
Dermawan menjual sebagian biji emas murni miliknya itu. Ternyata sangat mahal harganya. Baru sebagian emas murni yang dijualnya telah dapat digunakan Dermawan untuk membangun sebuah rumah yang indah lagi besar serta membeli kebun yang luas. Dermawan mempekerjakan beberapa orang untuk membantunya mengurus kebun luasnya itu. Orang-orang miskin kembali berdatangan ke rumah Dermawan untuk meminta dan Dermawan tanpa ragu-ragu memberikan pertolongan dan bantuannya. Semakin banyak orang miskin yang datang kepadanya, semuanya diterima Dermawan dengan baik dan dipenuhinya permintaan mereka. Terlebih-lebih setelah kebun Dermawan yang sangat luas itu memberikan hasil yang berlimpah untuknya.
Muzakir sangat keheranan ketika mengetahui keadaan kehidupan adiknya yang mendadak kaya raya dan mempunyai kebun yang sangat luas serta rumah yang besar lagi indah. Ia pun mendatangi adiknya untuk mencari tahu penyebab semua itu.
Dermawan dengan jujur menceritakan kejadian yang dialaminya.
Muzakir ingin pula mendapatkan keberhasilan seperti yang didapatkan adiknya. Ia lantas memerintahkan para pegawainya untuk mencari burung pipit yang terluka atau patah sayapnya. Jika memungkinkan, sebanyak-banyaknya. Namun ternyata sangat sulit mendapatkan burung yang patah atau terluka sayapnya. Muzakir tidak juga kehilangan akal Ia lantas memerintahkan para pegawainya itu untuk menyumpit burung pipit dengan sasaran sayap burung pipit. Cara seperti itu membuahkan hasil bagi Muzakir. Seekor burung pipit patah sayapnya terkena sumpit yang dilepaskan pegawai Muzakir.
Seperti halnya Dermawan, Muzakir merawat burung pipit yang patah sayapnya itu. Sama sekali tidak diduga Muzakir, si burung pipit sebenarnya mengetahur penyebab luka yang dialaminya. Bahkan, si burung pipit itu juga mengetahui siapa sesungguhnya yang menjadi penyebab utama sayapnya patah hingga ia tidak bisa terbang untuk beberapa saat lamanya.
Dalam perawatan Muzakir, burung pipit itu akhirnya sembuh. Ia dapat kembali terbang. Beberapa saat setelah ia terbang, burung pipit itu kembali kepada Muzakir seraya membawa sebutir benih tanaman. Diberikannya sebutir benih tanaman itu sebelum akhirnya ia terbang menjauh.
Muzakir lalu menanam benih tanaman itu di lahan pertanian terbaiknya. Ia melakukan perawatan dan penjagaan secara khusus. Benih tanaman itu tumbuh menjadi tanaman semangka yang sangat subur. Daunnya rimbun, bunganya banyak. Sama halnya dengan tanaman semangka yang ditanam Dermawan, tanaman semangka yang ditanam Muzakir juga hanya berbuah satu pada akhirnya. Sangat besar ukuran buah semangka itu, jauh lebih besar dibandingkan buah semangka milik Dermawan. Muzakir telah membayangkan biji emas di dalam buah semangkanya akan jauh lebih banyak dibandingkan biji emas milik Dermawan. Telah dibayangkannya pula perihal kekayaannya yang akan berlipat-lipat kali Iebih banyak.
Ketika buah semangka itu telah masak, Muzakir segera memetiknya. Ia memerintahkan dua pekerjanya untuk membawa buah semangka itu ke rumahnya. Seketika telah berada di dalam rumahnya, Muzakir memerintahkan semua pekerjanya untuk pergi menjauh. Ia tidak ingin biji emas yang akan didapatkannya itu diketahui orang lain. Ia lantas mengambil parang dan serasa tak sabar ketika membelahnya.
Akan tetapi, bukan biji emas yang terdapat di dalam buah semangka itu melainkan lumpur hitam bercampur kotoran yang sangat busuk baunya!
Lumpur hitam bercampur kotoran yang berbau sangat busuk seperti bau bangkai itu menyembur ke wajah Muzakir. Pakaian yang dikenakan Muzakir terkena semburannya pula. Begitu pula dengan permadani dan perabot rumah tangganya. Muzakir terpaksa keluar dari rumahnya seraya menjerit jerit. Orang-orang yang berdatangan tidak berusaha menolongnya, melainkan buru-buru menjauh karena tidak tahan dengan bau busuk yang terdapat pada diri Muzakir.
Pesan moral dari Cerita Dongeng Nusantara : Semangka Emas adalah iri hati dan tamak adalah dua sifat yang sangat buruk hingga sudah selayaknya kita jauhi agar kita tidak mendapat kerugian dan penyesalan

cerita disadur dari dongeng cerita rakyat


******************************************


Unsur Intrinsik

1. Ide Dasar
Mengenalkan salah satu sifat mulia pada anak yaitu ringan tangan, atau dalam kata lain gemar menolong orang lain tanpa pamrih. Serta, anak pun diharapkan mampu menghindari sifat iri hati dan tamak yang akan merugikan. Sifat dan perbuatan apapun yang kita pupuk, niscaya akana kita tuai di suatu hari nanti 

2. Tokoh dan Karakterisasi
a. Dermawan : Protagonis (sifatnya Peduli, dermawan, suka menolong)
b. Muzakir : Antagonis (sifatnya iri hati, kikir, sombong, acuh tak acuh, serakah/tamak)
c. Saudagar : Pendukung (sifatnya adil)
d. Burung pipit : Pendukung

3. Setting
a. Tempat : Sambas, Kalimantan Barat
b. Waktu : Siang hari

4. POV
Sudut pandang yg digunakan adalah Orang ke-3 dengan sebutan dia (POV3).

5. Plot Cerita
Opening:
Alkisah di daerah Sambas pada zaman dahulu hiduplah dua saudara. Muzakir dan Dermawan nama keduanya. Ayah keduanya adalah seorang saudagar kaya raya. Ketika ayah mereka meninggal dunia, ia mewariskan harta warisan yang sangat banyak jumlahnya. Harta warisan tersebut lantas dibagi dua. Setengah bagian untuk Muzakir dan setengah bagian sisanya untuk Dermawan. Keduanya lantas hidup terpisah, masing-masing menempati sebuah rumah yang besar lagi mewah.

Konflik:
Pada waktu panen tiba Dermawan memetik buah semangka yang sudah tumbuh besar dari biji yang diberikan burung pipit yang ia tolong, kemudian saat ia membelahnya tak disangka semangka tersebut berisi pasir kuning yang tak lain adalah emas murni.

Sedangkan Muzakir yang ingin menjadi kaya seperti Dermawan mencoba menolong burung yang sengaja ia patahkan sayapnya dengan sumpit hingga burung tersebut dapat kembali terbang. Burung itu juga memberi biji kepada Muzakir. Ketika sudah dipanen Muzakir membelah semangka yang jauh lebih besar dibanding semangka milik Dermawan. Bukan emas yang ia dapatkan namun semburan lumpur hitam bercampur kotoran yang baunya busuk.

Ending
Muzakir terpaksa keluar dari rumahnya seraya menjerit jerit. Orang-orang yang berdatangan tidak berusaha menolongnya, melainkan buru-buru menjauh karena tidak tahan dengan bau busuk yang terdapat pada diri Muzakir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar