Rabu, 11 Juli 2018

Tantrum vs Sensory Meltdown - Day 62 RBI

Di postingan kali ini, dalam rangka Afira Nisa's Writing Experience, saya ingin membagikan salah satu artikel penting dalam dunia Pengasuhan Anak.


WAG IP Bandung lagi rame bahas tentang Tantrum dan Sensory Meltdown. Eits apa itu sih? Perbedaannya apa? Yuk intio infografis yang dibagikan situs Hai Bunda dibawah ini:


Ini sumber bacaannya dari situs dokter sehat.
Saat Anda melihat anak mengamuk dan berteriak karena keinginannya tidak ditruruti, sering kali menganggapnya sebagai tantrum. Padahal anak yang bersikap demikian tidak selalu berarti tantrum, namun bisa juga sensory meltdown, yaitu emosi lepas kendali akibat terlalu banyak rangsangan sensorik. Meskipun memiliki gejala yang mirip, namun tantrum dan sensory meltdown adalah dua hal yang sangat berbeda.
Salah satu perbedaan antara tantrum dan sensory meltdown adalah penyebabnya. Tantrum adalah luapan emosi anak yang tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Biasanya tantrum dialami oleh anak yang kemampuan bicaranya belum maksimal.

Sedangkan sensory meltdown adalah reaksi anak yang berlebihan karena menerima terlalu banyak rangsangan sensorik.
“Tantrum adalah ledakan emosi ketika anak berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Sensory meltdown adalah reaksi atas perasaan tidak nyaman atau kewalahan,” jelas Amanda Morin, penulis buku The Everything Parent’s Guide to Special Education, dikutip dari laman understood.org
Untuk membedakannya, Anda bisa menyimak contoh berikut. Anak Anda menginginkan mainan namun Anda tidak mengijinkan dan ia pun marah. Ketika Anda memberikan mainan tersebut, anak menjadi tenang dan berhenti mengamuk.
Pada anak dengan sensory meltdown, anak tidak akan berhenti berteriak, menendang, atau mengamuk meskipun berhasil mendapatkan mainan yang diinginkan. Masalah yang dihadapi anak bukan pada mainannya, namun pada gangguan respon tubuh terhadap rangsangan sensorik yang ia terima.
Cara meredakan anak yang mengalami sensory meltdown berbeda dengan anak yang tantrum. Anak dengan sensory meltdown umumnya tidak tahu apa yang ia inginkan dan tidak ada tujuan tertentu dari sikapnya.
Gangguan sensory meltdown dapat dihilangkan dengan mengurangi rangsangan sensorik yang ada di sekitar anak. Suara berisik di pusat perbelanjaan, tempat yang terlalu banyak orang, terlalu berisik dan terlalu banyak orang yang menyentuh mereka bisa menjadi sumber gangguan pada anak. Saat anak menangis di tempat umum yang ramai dan bising, ajaklah anak untuk pindah ke tempat yang lebih tenang.
Penting bagi orang tua untuk mengenali apakah yang dialami oleh anak merupakan tantrum atau sensory meltdown. Tantrum dapat berkurang dengan sendirinya ketika anak semakin dewasa, sedangkan sensory meltdown mungkin diperlukan terapi khusus untuk membantu tubuh mengolah rangsangan yang diterima anak. Apabila anak Anda terlihat memiliki gejala sensory meltdown, sebaiknya segera periksakan ke dokter atau klinik tumbuh kembang anak.

Ada tambahan lagi mengenai tantrum yang tidak wajar, dilansir dari situs hello sehat.

Tantrum pada anak wajar, tapi ketahui batasannya

1. Memiliki frekuensi mengamuk yang sering

Anak-anak yang belum bersekolah akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama anggota keluarganya. Perhatikan jika ia mengalami tantrum sekitar 10 sampai 20 kali dalam satu bulan di rumah, atau lebih dari 5 kali amukan sehari yang terjadi selama beberapa hari. Jika buah hati Anda mengalami tanda-tanda ini, kemungkinan ia berisiko untuk mengalami masalah kejiwaan yang serius.

2. Mengamuk dalam waktu yang lama

Anak tantrum dalam durasi yang sebentar saja sudah bikin orangtua pusing, apalagi jika anak mengamuk dalam waktu yang cukup lama, misalnya hingga 20 atau bahkan 30 menit. Jika anak memang mengalami gangguan mental, maka durasi waktu mengamuknya akan lebih lama dan konstan dibandingkan dengan anak normal.
Misalnya, pada anak yang normal, ia akan mengamuk pada 1 jam pertama dan periode tantrum selanjutnya hanya 20-30 detik saja. Akan tetapi bila si kecil punya masalah dengan kesehatan mentalnya, maka ia akan mengamuk selama 25 menit dan tak berhenti. Jadi, saat ia mengamuk di waktu berikutnya maka akan memakan waktu selama 25 menit atau lebih. 

3. Saat mengamuk, berkali-kali melakukan kontak fisik dengan orang lain

Bukan hal yang aneh saat si kecil mengalami tantrum hingga menendang atau bahkan memukul orang terdekat mereka. Tantrum pada anak yang tidak normal bisa dinilai dengan melihat perilakunya saat mengamuk.
Jika sudah sering melakukan kontak fisik seperti memukul, mencubit atau bahkan menendang orang-orang di sekitarnya, maka ini sudah di luar batas wajar. Bahkan pada beberapa kasus, keluarga lebih memilih melindungi diri mereka karena kesulitan meredakan amarah si kecil. Waspada akan hal ini, sebab hal ini bisa jadi tanda bahwa si kecil memiliki gangguan pada dirinya.

4. Marah hingga melukai diri sendiri

Bila si kecil marah dan mengamuk hingga melukai dirinya sendiri, maka itu tanda bahwa ia mungkin mengalami masalah kesehatan mental tertentu. Pada beberapa anak dengan depresi berat, akan cenderung untuk menggigit, mencakar, membenturkan kepala ke dinding, bahkan menendang berbagai beda di sekitarnya ketika ia sedang marah. 

5. Belum mampu menenangkan diri sendiri

Kebanyakan “episode” tantrum bertujuan karena anak ingin mendapat perhatian lebih dari Anda entah itu karena sedang lapar, lelah, atau menginginkan suatu benda tertentu. Si kecil cenderung tidak mampu untuk menenangkan dirinya sendiri setelah meluapkan emosinya. Jadi, Anda dituntut untuk bisa menenangkan anak setelah mengalami tantrum.
Akan tetapi yang harus diingat, jangan lakukan hal ini setiap kali anak merengek hebat atau si kecil akan selalu bertindak seperti ini demi tercapainya hal yang mereka inginkan.
Disertai solusinya

Apa yang harus dilakukan jika anak memiliki tanda tantrum yang tidak normal ini?

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tantrum adalah hal yang normal terjadi dalam perkembangan buah hati Anda. Namun jika Anda menyadari kategori tantrum yang dialami anak Anda telah melewati batas, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, seperti:

Pertama, mulailah dari diri Anda dan keluarga.

Jika sebelumnya Anda sudah pernah mencoba bicara dengan anak Anda tentang kebiasaan buruknya, jangan menyerah hanya karena si kecil tidak menunjukkan adanya perubahan. Anda bisa mencoba dengan cara penyampaian lain yang sekiranya lebih mudah dicerna oleh si kecil.
Beri juga contoh hal baik yang bisa si kecil lakukan jika sedang dilanda kemarahan atau kesedihan hebat. Biasanya sikap anak akan berubah seiring bertambah usia dan adanya atmosfer dari keluarga yang mendukung perubahan bagi sikap anak. 

Berkonsultasi dengan psikolog anak

Selanjutnya jika Anda merasa tidak mampu menangani hal ini, konsultasikan keadaan yang dialami anak Anda kepada psikolog. Tidak hanya keadaan anak, keadaan yang sedang terjadi dalam keluarga juga bisa Anda sampaikan untuk membantu psikolog menilai penyebab tantrum yang berbahaya pada si kecil.



#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day62




Tidak ada komentar:

Posting Komentar