Senin, 16 Juli 2018

Travel Writing: Mengenal Budaya Tionghoa di Chinatown Bandung - Day 66 RBI

Hari minggu kemarin saya benar-benar GFOSS alias Gadget Free On Saturday and Sunday. Biasanya sih masih bisa curi-curi waktu barang sejenak pas Queen tidur. Tapi kali ini ga bisa sama sekali. Pas Queen tidur siang,  saya pakebut harus menyelesaikan beragam tugas domestik setelah rumah ditinggal seminggu lamanya. Dan seharian full saya menemani waktu bermain yang diselipi waktu belajarnya. Waktu malam yang biasa saya isi dengan menuliskan jurnal RBI maupun IIP, langsung blar ketiduran. Udah beberapa hari begini terus, ikut ketiduran saat mimi-in si sayang. Manajemen waktunya mesti dibenahi lagi nih.

Saatnya share progress proyek menulis saya.

Menyambung posting beberapa hari lalu tentang Travel Writing, ide baru untuk menambah khazanah proyek tersebut bagi saya adalah pengalaman di hari Minggu kemarin. Siang itu, Papaben dengan semangat mengajak kami bergegas tanpa memberi tahu kemana tujuan pelesir kali ini. Sudah biasa sih kami menerima surprise seperti ini. Tanpa persiapan spesifik, kami (saya dan Queen) sih seneng-seneng aja, selama perginya bareng-bareng. 

Dari Pasar Kordon, mobil kami memutar ke arah Samsat Carrefour Kiara Condong. Pasrah aja sih mau diajak kemana juga, sambil menerka-menerka di dalam hati, "Papa mau ngajak main kemana yaa?"

Dari Carrefour, kami berbelok ke Jl. Buah Batu, dilanjutkan ke Jl. Karapitan, Jl. Asia Afrika, dan melaju terus hingga lampu sein mengedip ke kanan, yaitu area pecinan Jl. Kelenteng. Bener-bener surprised banget. Ga pernah kebayang tempat wisata ini sih sebelumnya. 

Papa memarkirkan xtrail kami di tepian jalan tanpa parking area khusus, tanpa petugas parkir no tipping yang biasa dijumpai di tempat wisata ataupun di mall. Dari seberang nampak bangunan yang didominasi warna merah. Woaw, saya takjub, karena kami ga pernah culture trip sebelumnya. Tentu saja, si kecil sangat excited ngeliat banyak sekali ornamen khas Tionghoa yang baru pertama kali dilihat.



CHINATOW! Yep ini nama tempatnya. Udah lama banget, tapi entah kenapa terasa baru bagi saya. Padahal sudah jelas-jelas diresmikan sama Kang Emil.
Pertama, kami memasuki counter ticket. Harga tiket masuk per orang dibanderol Rp 30.000,- .. Berhubung tinggi badan putri kami masih dibawah 110 cm, jadi Queen masuknya gratis. Di sebelah kiri loket, terdapat mistar bertuliskan tinggi 110 cm, sebagai dasar perhitungan untuk tiket anak.

Gerbang masuk CHINATOWN ada di sebelah kanan (jika dilihat dari tempat parkir). Sedangkan gerbang keluarnya di sebelah kiri. Jadi dari konter tiket kami berjalan ke arah kiri untuk menyobekkan tiket yang telah kami beli. Poin pertama setelah gerbang masuk ada ATM Center untuk men-top up saldo e-money. Oh iya semua bentuk transaksi di dalam Chinatown ini menggunakan e-money yaa.. Untuk menghindari penggunaan transaksi tunai.

Kemudian kami melangkah ke berbagai spot yang instagramable. Di seberang ATM Center terdapat museum Tinghoa, yang didalamnya terdapat berbagai benda kuno peninggalan warga Tionghoa. Ada pula pemaparan singkat alias sejarah yang didokumentasikan di dinding. Dari mulai awal penyebaran hingga pengusiran saat terjadinya Bandung Lautan Api, yang menjadi titik penyebaran warga Tionghoa ke berbagai titik daerah di pelosok Bandung. Di sudut lainnya terdapat plakat di tembok berisi tanda tangan Walikota Bandung, Kang Emil, saat meresmikan tempat wisata ini. Langkah kami dilanjutkan ke kamar-kamar kecil yang berbeda tema dan isi barangnya.

Ada kamar berisi naga dan bantal-bantal lucu dilengkapi penjara kecil. Ada juga toko kuno dilengkapi barang-barang jadoel tempo doeloe. Ada juga tempat penyewaan kostum China yang dibanderol dengan harga 50.000 hingga 150.000. Untuk pakaian adat laki-laki seharga 100.000.

Di depannya ada kolam kecil dengan jembatan kayu berwarna kemerah-merahan khas China berisi ikan koi besar-besar. Eh seriuuus, ikan koi disini gedenya super duper wah banget! Queen nyaman mantengin ikan gede ini. Sampe gamau melangkah ke kamar berikutnya: Ruang keluarga yang didesain seperti studio foto jadul dengan kursi kulit besar dengan furnitur jadul. Pokoknya berasa balik ke zaman dulu. Diluar kamar, terdapat berbagai lampion dan musik khas Tionghoa. Kental bangettt!

Diluar, terdapat booth-booth kecil dengan berbagai action figure lucu. Eh bukan AF sih tapi semacam tokoh kartun yang unyu-unyu banget. Di belakang booth, terdapat playground keren berisi rumah kayu yang nampak ciamik. Di sebelahnya terdapat mushola bersih yang lumayan luas berisi sekitar 4 shaff jemaah. Tempat wudhlunya pun bersih, yang mengapit mushola di tepi kiri untuk wanita, dan sisi kanan untuk prianya.

Lanjut, di ujung paling akhir booth, terdapat meja cafe, yang terdapat background ter-ramai untuk berswafoto. Yep, background ini nih:

Food garden tersebar di seluruh spot yang berpusat dari tengah area. Sehingga, kursi makan mendominasi areal Chinatown ini. Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul 15.00. Papaben menyeret lembut tangan saya menuju ruang auditorium terbuka yang terdapat mini stage dan pilar-pilar pancang yang menjulang. Oh ternyata, Papaben udah mengeset timing visit kami yang bertepatan dengan jadwal Barongsai Show. Kami melirik bangku paling depan untuk mendapatkan spot video terbaik. Dengan lincah, para pemain dengan seragam bertuliskan Lion Dance Team berlatih untuk pemanasan (gladiresik). Mereka berloncat sendiri maupun berkelompok yang mengundang decak kagum para penonton yang sudah stand by di bangku penonton sambil menikmati makanan yang telah diorder sebelumnya. Papaben memesan snack berisi french fries dan bratwurst dengan topping lelehan mozarela untuk si sayang, Queenara. Jusnya, so pasti alpukat no ice no sugar buatnya. Untuk mamanya, Papaben pesan mie kocok. Padahal baru semalam beli mie kocok di TSM hihihi..  Harganya memang terbilang high sih kata saya. Eskrim coklat yakult yang Papa pesan aja diatas 60.000.. Hmm!

Saat para pemain menabuh musik, acara barongsai pun dimulai. Para pemain yang tadi berlatih untuk gladi, kini sudah memakai kostum barongsai, sehingga wajah asli mereka pun sudah tak terlihat lagi. Dua pemain berkostum cici koko (yang keduanya memakai kerudung) mengajak Queen ber-high five (toss), karena bangku kita ada di paling depan. Queen sih berani-berani aja, tapi suasananya mulai berbeda. Senyumnya tidak lagi se-ceria tadi. Apalagi ketika barongsai oranye menari di depan wajah kami, tangisnya tidak terbendung. Papaben yang membawa makanan, tergopoh-gopoh mendatangi meja dan memangkunya menjauhi areal stage. Tapi ternyata bukan papanya yang Queen inginkan. Tapi Mama!

Meninggalkan spot terbaik, saya ambil Queen dari pangkuan Papaben, dan berlari menjauh. Saya minta Papa tetap di tempat. Biar saya yang ajak Queen berkeliling. Spot pertama yang kami datangi tentu saja kolam ikan koi besar. Tapi nyatanya tidak mampu membuat tangisan Queen mereda. Adzan Ashar pun berkumandang. Kami bergegas menuju mushola yang sepi. Miris sih! Pertunjukkan akbar bertepatan dengan adzan. Saya mendudukkan Queen di karpet empuk mushola, tapi tangisannya tak kunjung reda. Malah semakin menjadi. Ia memeluk erat mamanya. Queen nampak takut. Sedang matanya tidak mau dibuka: merem semerem-meremnya. Mungkin kalau dibuka, ia takut penampakan barongsai muncul tepat di depan wajahnya.





Saya pun menanggalkan mukena yang akan dipakai shalat. Gabisa dalam kondisi seperti ini. Saya ajak Queen masuk ke dalam arena playground. Tangisannya agak mereda tapi tak sepenuhnya berhenti. Bayangan barongsai masih memenuhi pikirannya. Ditengah tangisan, ia meracau mengeluarkan isi hati:

"Tatuut mamaa.. bolocai ga-ak," ujarnya.

Saya peluk dan mengusap lembut rambut panjangnya. "Jangan takut sayang. Barongsai kan baik. Tadi badutnya juga ces kan sama kakak. Jangan takut ya, Nak. Kan Ada mama!" Saya meyakinkannya.

Ia menjawab dan mengkonfirmasi, "Bolocai baik. Badut ces."

Pintarnya!

Kemudian tangisannya benar-benar mereda saat saya ajak Queen naik rumah pohon dan berkeliling ke setiap chamber yang ada diatas dengan tema permainan yang berbeda-beda, yang dihubungkan dengan jembatan gantung.











Setelah mengabari Papaben, saya akhirnya bisa aplusan. Papa menemani Queen bermain di atas pohon. Dan saya bisa kembali ke mushola. Papa pun membayar tiket masuk playground-nya dengan menggesek e-money. Oh iya harga tiket masuknya senilai Rp 35.000 per anak, sepuasnya. Pendamping tidak dikenakan biaya. Dan kami tidak perlu menggunakan kaus kaki seperti area playground pada umumnya. Alasnya bukan menggunakan playmat, tapi rumput sintetis yang empuk. Dan Queen bisa anteng sampai sore.



#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day66

Tidak ada komentar:

Posting Komentar